Dear Koco,

Sekarang aku bisa tersenyum lega lho. Sekarang aku yakin bahwa aku bisa lho. Aku yakin bahwa aku akan menjadi sang pemenang, bukan lagi si pecundang yang malang. Potensiku telah tergalikan dan semangatku telah terbangkitkan. Itulah yang selalu kurasakan di akhir setiap satu jam ‘coaching’ darimu, Koco.

Dulu lama aku terombang-ambingkan… dalam gelombang lautan kebingungan. Bahkan, aku nyaris tenggelam… ke dalam samudera ketidakberdayaan yang gelap dan kelam. Sampai akhirnya saat kamu datang dengan sebuah kehadiran yang memberiku sebuah pembelajaran. Itulah yang boleh kukatakan tentang setiap kehadiranmu di hadapanku, Koco.

Tidak seperti orang-orang lain yang kutemui, kamu lebih banyak berdiam diri. Kamu membiarkan aku seenak diriku melesakkan dan menggelontorkan keluar keluh-kesah yang menyesakkan dadaku. Dan kamu hanya fokus mendengarkan aku justru supaya aku dapat mendengarkan diriku. Kata guruku, kamu pandai dalam menangkap kata kunci dan mengelola keheningan, Koco.

Dan saat kamu bertanya padaku, aku merasakan adanya gejolak yang luar biasa di dalam pikiranku. Aku terdorong untuk berpikir positif dan bahkan terstimulasi untuk segera bergerak produktif. Aku merasa diberdayakan, bukan terperdayakan. Terus terang saja, pertanyaan-pertanyaanmu telah membuat aku semakin mengenal potensi yang ada pada diriku, Koco.

Saat detil demi detil dari sebuah rancangan aksi sedang kubuat, sebuah pesan pendek darimu muncul pada layar telepon genggamku dan memberiku sebuah semangat. Saat sebuah rancangan aksi itu sedang kujalankan, sebuah sapaan darimu terdengar melalui telepon genggamku dan memberiku sebuah keyakinan. Seakan-akan kamu masih hadir di hadapanku dan ingin terus bersamaku mencapai impianku. Kayaknya, aku dapat merasakan bahwa suksesku adalah suksesmu juga, Koco.

Kamu telah menjadi cermin untuk aku melihat diriku. Semuanya untuk suksesku. Terima kasih banyak, Koco.

Salam hormatku padamu,
Koci.

 

Author : Iman Agung Silalahi
× Perlu Bantuan ?