TRANSFORMIA – Coaching – Consulting – Training

 

“Sepertinya saya tidak memiliki bakat berbisnis.” Ucap seorang lelaki dalam salah satu sesi seminar bisnis di salah satu kota di Jawa Timur. Sejak setahun yang lalu, bisnis yang lelaki ini rintis memang tidak ada yang berhasil. Semuanya gagal dan tidak menghasilkan apa-apa.

 

“Kira-kira apa yang harus saya lakukan?” pertanyaan ini diutarakan oleh pria tersebut pada trainer yang membawakan salah satu sesi.

 

“Yang pertama harus kamu lakukan adalah berhenti menyalahkan bakat sebagai alasan kegagalanmu, karena keberhasilan itu tidak ditentukan sepenuhnya oleh bakat, melainkan ditentukan oleh minat dan konsistensi diri yang kamu tunjukkan tatkala menjalankan prosesnya.” Ucap sang trainer.

 

Perihal minat yang menentukan keberhasilan ini, mungkin kita dapat belajar dari kisah hidup Yongki Komaladi. Siapa yang tidak mengenal sosok Yongki Komaladi? Nama Yongki Komaladi memang telah menjadi brand sepatu berkualitas tinggi di Indonesia. Tidak hanya sepatu, Yongki Komaladi juga memiliki berbagai bisnis seperti bisnis busana, tas, makanan hingga bisnis online.

 

Yongki Komaladi lahir di Jakarta dan merupakan anak ke 14 dari 15 bersaudara yang dilahirkan dari pasangan Liauw A Ho dan Kwok Pit Tjong. Nama Yongki sendiri merupakan panggilan yang diberikan kakak dan teman-temannya. Menempuh pendidikan dasar di SD Petojo, SMP PAX Kemakmuran, SMU Katolik Ricci, Yongki lalu melanjutkan pendidikan di Swiss Cottage Secondary School dan Stamford Collage Singapore.

 

Ketika menempuh pendidikan di Singapura, ibunda Yongki meninggal dunia. Ditinggalkan ibunda tercinta membuat Yongki Komaladi merasa terpukul. Kemudian Ia diangkat menjadi anak dari seorang pengusaha di bidang fashion yang memiliki butik ekslusif di daerah bilangan Duta Merlin, Jakarta. Butik milik orang tua angkatnya ini menjual berbagai barang bermerk luar negeri dari Perancis dan Italia.

 

Diasuh oleh keluarga yang berkarir di dunia fashion menarik minat Yongki untuk mulai belajar di bidang yang sama. Tahun pertama pembelajarannya dunia fashion, Yongki mulai mengenal produk impor di Jakarta. Di butik ini pula, Yongki bertemu dengan berbagai orang penting seperti artis, pejabat, hingga tokoh terkenal lainnya. Predikat butik terkenal membuat toko busana milik orang tuanya ramai dikunjungi konsumen kelas atas.

 

Yongki pun akhirnya memiliki jaringan dan rekanan yang cukup luas untuk mengembangkan usahanya sendiri. Kala itu Yongki sama sekali tidak tahu apa yang menjadi bakatnya karena yang dia tahu hanyalah minatnya yang cukup tinggi untuk bergerak di bidang fashion. Tanpa disangka, minat inilah yang akhirnya mengantarkan Yongki Komaladi menuju puncak keberhasilannya.

 

Maka, sesungguhnya dalam berbisnis ataupun didalam pekerjaan tidak penting apakah kita memiliki bakat maupun tidak, karena yang terpenting sesungguhnya adalah minat. Ketika kita memiliki minat dan ketertarikan yang tinggi pada sesuatu dan kita fokus untuk menekuninya, akan selalu ada pintu keberhasilan yang terbuka seperti yang ditunjukkan dalam kisah Yongki diatas.

 

Maka, sudahkah kita menemukan minat kita?

 

Oleh Ivandhana, Personal Productivity Coach & Trainer

 

 

 

Jasa Coaching Consulting Training Jakarta – Indonesia

Untuk info lebih lengkap, kunjungi website kami di :
www.transformia.co.id
atau hubungi kami di :
+62 813-1721-1792
Mia@transformia.co.id
× Perlu Bantuan ?