Kisah ini merupakan cerita nyata dari Ajahn Brahm, seorang petapa asal London yang terkenal dengan gaya ceramah menyentil namun jenaka.

Pada tahun 1983, para Biksu termasuk Ajahn Brahm membeli tanah untuk membangun Wihara. Namun karena tidak mempunyai dana untuk membayar tukang, para Biksu harus belajar cara bertukang, termasuk memasang batu bata. Membutuhkan kesabaran dan waktu yang banyak untuk memastikan setiap batu bata terpasang sempurna. Akhirnya, beliau berhasil menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri untuk mengagumi hasil karyanya.  Saat itulah beliau melihat “Oh, Tidak!!! Saya telah keliru menyusun dua batu bata”. Semua batu bata lain sudah lurus. Tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok.

Saat itu, ingin rasanya beliau membongkar dan membangun kembali tembok itu, atau jika perlu meledakkannya sekalian. Karena beliau merasa telah membuat kesalahan dan menjadi gundah gulana. Namun, Kepala Wihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika Ajahn Brahm membawa para tamu untuk berkunjung keliling Wihara yang setengah jadi, beliau selalu menghindarkan membawa mereka melewati tembok bata yang dibuatnya. Beliau tidak suka ada orang yang melihatnya. Hingga suatu hari, kira-kira 3 bulan setelah beliau membangun tembok tersebut, beliau berjalan dengan seorang pengunjung dan pengunjung itu melihatnya. “Itu tembok yang indah” pengunjung itu berkomentar dengan santainya.

Ajahn Brahm terkejut. Beliau bertanya kepada pengunjung tersebut. “Apakah penglihatan anda terganggu? Tidakkan anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu?”

Apa yang sang pengunjung ucapkan selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangannya terhadap tembok itu. “Ya, saya dapat melihat dua bata jelek itu, namun saya juga dapat melihat 988 batu bata yang bagus”.

Untuk pertama kalinya selama lebih dari 3 bulan, Ajahn Brahm mampu melihat batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Batu bata yang sempurna. Padahal, jumlah bata yang terpasang sempurna jauh lebih banyak daripada dua bata jelek ini. Selama ini, matanya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah diperbuat, sehingga terbutakan dari hal-hal lainnya.

Kita semua memiliki “dua bata jelek”. Namun, bata yang baik di dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Sangat beruntung bagi kita yang dengan mudah melihat banyaknya bata-bata sempurna diantara bata yang jelek. Kadangkala, pikiran dan perasaan sulit dikontrol. Kita cenderung lebih fokus melihat bata yang jelek, fokus melihat kesalahan daripada segala kebaikan yang ada. Terlena dengan masalah, sehingga seringkali merasa buntu tanpa jalan keluar.

Untuk itu, ada kalanya kita membutuhkan bantuan seorang Coach. Seseorang yang mampu membantu kita untuk membuka mata, melihat dari sudut pandang lain selain yang kita fokuskan. Mengarahkan kita untuk melihat bahwa masih banyak kebaikan-kebaikan lain ataupun peluang kebaikan yang dapat kita raih, dibandingkan dengan segala kesalahan dan masalah yang melanda. Mengubah cara pandang kita untuk lebih positif.

Karena begitu kita mampu melihat ada sisi lain yang juga baik bahkan lebih baik, maka semua akan tampak tak terlalu buruk lagi. Kita akan menemukan solusi untuk diri kita sendiri. Kita akan lebih memaafkan dan menerima diri kita, berdamai dengan diri sendiri.

 

REFERENSI

Brahm, Ajahn. 2017. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya. Jakarta: Awareness Publication.

 

Author : Henny Wang

× Perlu Bantuan ?