TRANSFORMIA – Coaching – Consulting – Training

 

Beberapa waktu lalu, publik Indonesia diramaikan dengan statemen dari seseorang yang dianggap menistakan atau mendeskreditkan sebuah agama. Hal ini menyebabkan timbulnya emosi dari pihak lainnya hingga akhirnya terjadi aksi massa dalam jumlah besar sebanyak dua kali.

 

Emosi memang memiliki energi yang cukup untuk membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak mungkin  dilakukan dalam kondisi normal. Seperti dalam kisah diatas yang akhirnya menyebabkan jutaan orang bersedia mengorbankan banyak hal dalam sebuah aksi demi memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini.

 

Di masa penjajahan bangsa Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu, energi emosi mampu membuat rakyat indonesia meraih kemerdekaannya. Emosi dan kemarahan yang sangat tinggi terhadap para penjajah membuat rakyat bersatu dan bersedia memperjuangkan kemerdekaan walaupun nyawa  dipertaruhkan.

 

Kesediaan mengorbankan diri untuk mencapai sesuatu inilah yang kemudian membuat kita harus berhati-hati. Karena hal ini mengindikasikan besarnya energi sebuah emosi. Semakin besar sebuah energi nantinya akan membutuhkan pengendalian diri yang lebih besar pula.

 

Emosi seringkali membuat kita sudah tak bisa berpikir dengan akal sehat dan nurani. Dampaknya, emosi bisa saja membuat seseorang lepas kendali sehingga melakukan hal negatif yang tidak seharusnya dia lakukan. Seperti memukul diri sendiri atau orang lain tanpa alasan yang jelas. Dalam skala besar, emosi dapat menimbulkan tawuran dan kerusuhan hanya karena hal-hal yang sepele.

 

Lantas apa yang perlu kita lakukan untuk menjaga agar energi emosi tetap berada pada batas yang wajar dan positif? Apakah kita perlu menahan emosi kita?

 

Emosi tidak perlu ditahan maupun ditekan, namun dia perlu untuk diseimbangkan dengan hati dan pemikiran. Menekan emosi memang terlihat normal dilakukan, namun sesungguhnya menahan atau menekan emosi memiliki potensi membuat emosi tersebut justru berubah menjadi hal-hal yang lebih ekstrim di kemudian hari.

 

Hal ini disebabkan karena menekan emosi justru membuat setiap perasaan tidak enak di hati tersimpan semakin dalam untuk kemudian keluar kembali dalam momen-momen yang tidak mampu kita perkirakan

 

Maka yang perlu kita lakukan adalah mengontrol energi emosi dengan cara menyeimbangkannya dengan hati dan pemikiran, caranya adalah :

 

  1. Ketika pemicu sebuah emosi muncul, jangan terburu-buru terpancing. Biarkan pikiran kita memberikan analisanya. Beri pikiran kita dasar yang objektif untuk menganalisa dengan cara mencari informasi tambahan dari beberapa sudut pandang lain.

 

  1. Gunakan hati nurani kita ketika pemicu emosi muncul dengan cara memikirkan dampak baik dan buruknya tindakan yang kita lakukan. Gunakan sudut pandang orang lain untuk menilai apakah tindakan yang akan kita ambil tersebut nantinya berpotensi merugikan orang lain atau tidak

 

  1. Ketika emosi tersebut muncul, jangan merasa bahwa diri kita adalah korban, karena hal ini akan memunculkan perasaan tersakiti yang membuat kita seketika berusaha membalas orang lain padahal belum tentu orang tersebutlah yang menyakiti kita. Hal ini untuk menghindarkan orang lain yang tak bersalah juga terkena dampaknya.

 

 

Oleh Ivandhana, Personal Productivity Coach & Trainer

 

 

Jasa Coaching Consulting Training Jakarta – Indonesia

Untuk info lebih lengkap, kunjungi website kami di :
www.transformia.co.id
atau hubungi kami di :
+62 813-1721-1792
Mia@transformia.co.id
× Perlu Bantuan ?