Suatu ketika, saya memiliki kesempatan untuk berperan sebagai coachee (orang yang di-coach). Tak mau kehilangan moment, saya memilih untuk membahas masalah dan kegundahan hati yang melanda. Ya, sebagai manusia normal, kadang pikiran dan perasaan berkecamuk seperti benang kusut. Saat saya merasa buntu dan bingung tentang apa yang harus dilakukan.

Seperti biasa, Sang Coach memulai proses coaching dengan menjelaskan tujuan, kode etik dan beberapa prosedur coaching. Dan dilanjutkan dengan pertanyaan : “Jadi, apa tujuan dan target dari Coaching kita hari ini?”. Namanya juga sedang galau, benang kusut. Bahkan untuk menjawab pertanyaan tersebut saja, saya butuh beberapa waktu untuk berpikir keras. Coach pantang menyerah, mengeksplore pikiran dan perasaan saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam, membuat saya semakin berpikir dan berpikir keras. Beberapa pertanyaan bahkan sangat menyentil dan membawa “AHA” untuk saya. Bahwa memang ada yang perlu saya perbaiki segera.

Proses bertanya dan menjawab begitu mengalir. Saya seperti sedang bercerita kepada seorang sahabat, yang benar-benar hadir dan mendengarkan, tanpa menghakimi. Saya bebas meluapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan, berusaha mengurai benang-benang kusut dari kegundahan yang ada. Sampai di satu titik, saya menemukan kelegaan yang luar biasa. Rasa “Plong” atas peluapan tanpa penghakiman. Dan ketika kelegaan itu muncul, segala sesuatunya terasa sangat jernih. Saya mulai dapat berpikir dengan logis, mencari langkah-langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah. Semakin dibahas setiap langkah, semakin tajam dan jelas, semakin menumbuhkan rasa semangat yang sempat hilang.

Proses Coaching, sekilas tampak hanya seperti proses bertanya dan menjawab. Namun dampaknya sungguh terasa. Bagaimana kita sebagai coachee mendapatkan suatu kelegaan dan semangat baru, untuk melangkah ke depan, menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Author : Henny Wang

× Perlu Bantuan ?